Dari Ruang Kelas hingga Ruang Sidang: Jalan Panjang Syafruddin Menuju Senayan

Foto: Anggota DPR RI, Syafruddin. S.Pd.(Barometerkaltim.id/Man)

Barometerkaltim.id, Kaltim – Tidak semua pemimpin lahir dari panggung elite atau keluarga berpengaruh. Sebagian ditempa oleh jalan panjang, kerja sunyi, dan proses belajar yang berliku. Syafruddin adalah salah satunya.

Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa politik bukan sekadar soal kekuasaan, tetapi hasil dari akumulasi pengalaman sosial, pendidikan, dan keberanian mengambil keputusan besar di tengah keterbatasan.

Syafruddin lahir dan besar di Bima, Nusa Tenggara Barat, dari keluarga sederhana. Ayahnya adalah petani bawang merah, pekerjaan yang menuntut ketekunan dan ketahanan menghadapi ketidakpastian musim serta harga pasar.

Sejak kecil, Syafruddin terbiasa melihat bagaimana kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan hasil yang layak. Pengalaman ini membentuk kepekaannya terhadap realitas hidup masyarakat kecil—sebuah nilai yang kelak menjadi fondasi perjuangannya di dunia politik.

Merantau sebagai Sekolah Kehidupan

Seperti banyak anak muda dari daerah, Syafruddin memilih merantau. Bukan karena ingin meninggalkan kampung halaman, tetapi karena ingin membuka kemungkinan hidup yang lebih luas. Dengan bekal tekad dan keberanian, ia berangkat meninggalkan Bima menggunakan kapal feri bermuatan bawang merah menuju Kalimantan Selatan.

Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan awal dari fase pembelajaran sosial yang keras. Di Kalimantan, Syafruddin menjalani hidup berpindah-pindah, menyesuaikan diri dengan pekerjaan apa pun yang bisa menopang hidup.

Perjalanannya kemudian membawanya ke Kabupaten Kutai Kartanegara, tepatnya di Kecamatan Muara Badak. Di wilayah pesisir itu, ia bekerja sebagai penjaga tambak. Hari-harinya dihabiskan di tengah lumpur, air payau, dan terik matahari. Pekerjaan tersebut menuntut fisik kuat dan ketahanan mental, jauh dari kenyamanan hidup perkotaan.

Namun justru di ruang-ruang sunyi itulah Syafruddin belajar tentang makna tanggung jawab dan kejujuran kerja. Ia melihat langsung bagaimana para pekerja tambak, nelayan, dan buruh hidup dalam keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial.

Kesadaran tersebut perlahan tumbuh menjadi pertanyaan besar dalam dirinya: mengapa mereka yang bekerja paling keras sering kali menjadi pihak yang paling sedikit didengar.

Buruh Pelabuhan dan Kesadaran Sosial

Setelah beberapa waktu di Muara Badak, Syafruddin melanjutkan perantauannya ke Samarinda. Di Kecamatan Palaran, ia bekerja sebagai buruh di pelabuhan peti kemas. Pekerjaan ini tidak kalah berat. Jam kerja panjang, tekanan fisik tinggi, dan risiko kecelakaan menjadi bagian dari keseharian.

Di pelabuhan, Syafruddin berinteraksi dengan buruh dari berbagai latar belakang. Percakapan-percakapan sederhana di sela waktu istirahat membuka matanya tentang persoalan struktural: upah rendah, minimnya jaminan kerja, dan lemahnya posisi tawar buruh.

Pengalaman sebagai buruh pelabuhan mempertegas keyakinannya bahwa perubahan tidak cukup dilakukan secara individual. Diperlukan pengetahuan, organisasi, dan keberanian untuk memperjuangkan kepentingan bersama.

Pendidikan sebagai Titik Balik

Kesadaran itulah yang mendorong Syafruddin mengambil keputusan besar: melanjutkan pendidikan formal. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Universitas Mulawarman, Samarinda, memilih Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Dunia kampus menjadi ruang baru bagi Syafruddin. Ia tidak hanya belajar teori pendidikan, tetapi juga mempelajari dinamika sosial, sejarah pemikiran, dan peran intelektual dalam masyarakat. Pendidikan baginya bukan sekadar alat mencari pekerjaan, melainkan sarana memahami realitas dan merumuskan solusi.

Di kampus, Syafruddin dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan kritis. Ia tidak membatasi diri pada ruang kelas, tetapi terlibat dalam berbagai diskusi, kajian, dan kegiatan kemahasiswaan.

PMII dan Pembentukan Kepemimpinan

Salah satu fase paling penting dalam hidup Syafruddin adalah keterlibatannya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Organisasi ini menjadi ruang pembelajaran politik dan sosial yang nyata.Di PMII, Syafruddin belajar tentang kepemimpinan kolektif, manajemen organisasi, serta advokasi isu-isu kerakyatan. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan pengkaderan, diskusi publik, dan gerakan sosial.

Konsistensi dan dedikasinya membuat Syafruddin dipercaya menjadi Ketua Cabang PMII Kota Samarinda. Posisi ini bukan hanya simbol, tetapi tanggung jawab besar untuk mengelola organisasi, membangun jaringan, dan menyuarakan kepentingan mahasiswa serta masyarakat.

Pengalaman memimpin PMII menjadi bekal penting dalam membentuk karakter politiknya: mendengar sebelum berbicara, bekerja sebelum menuntut, dan mengutamakan kepentingan bersama.

Memasuki Dunia Politik Praktis

Selepas masa aktif di organisasi mahasiswa, Syafruddin memutuskan untuk terjun ke dunia politik praktis. Ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang menurutnya memiliki kedekatan ideologis dengan nilai-nilai perjuangan rakyat kecil, pluralisme, dan demokrasi.

Langkah ini bukan tanpa risiko. Politik praktis sering kali dipersepsikan sebagai arena keras dan penuh kompromi. Namun bagi Syafruddin, politik adalah alat untuk memperjuangkan nilai yang diyakininya.

Kegagalan sebagai Proses Pembelajaran

Pada Pemilu 2009–2014, Syafruddin mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur dari Daerah Pemilihan Samarinda. Hasilnya belum sesuai harapan, ia belum berhasil terpilih.

Namun kegagalan itu tidak membuatnya mundur. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai evaluasi dan pembelajaran. Ia memperkuat kerja-kerja sosial, memperluas jaringan, dan lebih intens turun ke masyarakat.

Syafruddin menyadari bahwa kepercayaan publik tidak dibangun dalam semalam. Dibutuhkan kehadiran yang konsisten dan komitmen jangka panjang.

Terpilih dan Mengabdi di DPRD Kaltim

Usaha tersebut membuahkan hasil pada Pemilu 2014–2019. Maju dari Dapil VI Kalimantan Timur yang meliputi Berau, Kutai Timur, dan Bontang, Syafruddin berhasil terpilih sebagai anggota DPRD Kalimantan Timur.

Di lembaga legislatif provinsi, ia fokus pada isu-isu pendidikan, kesejahteraan buruh, dan pembangunan daerah. Latar belakangnya sebagai mantan buruh dan aktivis mahasiswa membuatnya peka terhadap persoalan masyarakat akar rumput.

Kepercayaan masyarakat kembali ia peroleh pada periode 2019–2024, kali ini dari Dapil Kota Balikpapan. Meski berasal dari daerah pemilihan berbeda, Syafruddin memandang tugasnya sebagai wakil rakyat Kalimantan Timur secara keseluruhan.

Menuju Panggung Nasional

Pengalaman dua periode di DPRD Kalimantan Timur menjadi bekal penting bagi Syafruddin untuk melangkah lebih jauh. Dengan keyakinan dan pengalaman panjang dari bawah, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029.

Proses ini kembali menuntut kerja keras dan konsistensi. Ia turun langsung ke masyarakat, menyerap aspirasi, dan menawarkan gagasan berbasis pengalaman nyata.

Hasil Pemilu 2024 menjadi penanda perjalanan panjang tersebut. Syafruddin terpilih sebagai anggota DPR RI mewakili Kalimantan Timur.

Politik sebagai Pengabdian

Bagi Syafruddin, pencapaian ini bukanlah akhir, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar. Dari anak petani bawang merah di Bima, buruh tambak dan pelabuhan di Kalimantan, aktivis mahasiswa, hingga wakil rakyat di Senayan. Semua fase hidupnya membentuk cara pandangnya tentang politik.

Ia meyakini bahwa politik harus berpihak pada mereka yang selama ini berada di pinggiran. Pendidikan, menurutnya, adalah kunci utama untuk memutus rantai kemiskinan dan ketimpangan.

Kisah Syafruddin menjadi cermin bahwa perubahan tidak selalu datang dari mereka yang memiliki segalanya sejak awal. Dengan ketekunan, pendidikan, dan keberanian untuk bangkit dari kegagalan, jalan menuju pengabdian publik selalu terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *